Dari Biji Kakao Menjadi Produk Cokelat: Pemuda Lereh Belajar Hilirisasi Kakao di Abepura dan Sentani
Jayapura, admediapapua.co.id -Potensi kakao tidak hanya terletak pada hasil panen, tetapi juga pada peluang mengolahnya…
Friday, 16 October 2026 - 08:20 WIT

Jayapura, admediapapua.co.id -Potensi kakao tidak hanya terletak pada hasil panen, tetapi juga pada peluang mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Pemahaman inilah yang menjadi salah satu fokus Pelatihan Hilirisasi Kakao yang diselenggarakan oleh Kelompok 3 Tim Ekspedisi Patriot ITB 2026 pada 13–14 Oktober 2026.
Kegiatan ini melibatkan 17 pemuda perwakilan setiap Satuan Permukiman (SP) dan kampung adat di kawasan transmigrasi Lereh, Kabupaten Jayapura, Papua. Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian kunjungan industri, pembelajaran materi hilirisasi, serta praktik pengoperasian mesin pengolahan kakao untuk mengenal proses produksi cokelat secara langsung.
Kegiatan dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Kakao Kita Papua di Abepura, Jayapura, pada hari pertama dan Rumah Coklat di Sentani pada hari kedua. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, para pemuda diajak memahami bagaimana biji kakao dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus mengenali peluang pengembangan industri pengolahan kakao di kawasan transmigrasi Lereh.
Hari Pertama: Mengenal Industri, Pemberdayaan Petani, dan Peluang Kakao di Kakao Kita Papua
Pada Selasa, 13 Oktober 2026, para peserta mengunjungi Kakao Kita Papua di Abepura, Jayapura. Kegiatan ini dipandu langsung oleh Direktur Kakao Kita Papua, Arnoldus Hans Benasu, bersama staf.
Dalam kunjungan tersebut, peserta diperkenalkan dengan profil usaha Kakao Kita Papua, proses pengolahan kakao menjadi produk cokelat, serta peran industri dalam pemberdayaan petani dan membuka akses pasar bagi produk kakao. Peserta juga berkesempatan mengamati secara langsung aktivitas produksi untuk memahami tahapan yang dilalui dalam menghasilkan produk cokelat.
Kunjungan ini memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara sektor pertanian dan industri pengolahan. Kakao tidak hanya memiliki nilai sebagai komoditas hasil perkebunan, tetapi juga berpotensi menghasilkan nilai tambah melalui pengolahan dan pengembangan produk.
Bagi para pemuda dari kawasan transmigrasi Lereh, pengalaman ini menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan mengenai peluang pengembangan kakao di daerah mereka. Mereka dapat melihat bagaimana kegiatan pengolahan dijalankan dan memahami bahwa pengembangan industri membutuhkan pengetahuan teknis, peralatan yang sesuai, serta upaya membangun hubungan antara produsen bahan baku dan pasar.
Pembelajaran hari pertama menjadi langkah awal untuk mengenal ekosistem industri pengolahan kakao, mulai dari bahan baku hingga produk yang siap dipasarkan. Pengalaman ini sekaligus membuka perspektif peserta bahwa potensi kakao di daerah dapat dikembangkan lebih jauh melalui pengolahan yang tepat.


Pada Rabu, 14 Oktober 2026, kegiatan berlanjut di Rumah Coklat, Sentani. Jika hari pertama berfokus pada pengenalan industri, hari kedua diarahkan pada pendalaman materi hilirisasi kakao dan praktik pengolahan menggunakan mesin secara langsung.
Kegiatan ini dipandu oleh Ketua Pengelola Rumah Coklat, Sumi Mustafa, dan turut dihadiri oleh Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Jayapura, Terrianus F. Ayomi.
Dalam sesi pembelajaran, peserta mendapatkan penjelasan mengenai konsep hilirisasi kakao dan pentingnya pengolahan dalam meningkatkan nilai tambah komoditas. Hilirisasi memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengambil peran lebih jauh dalam rantai nilai kakao, tidak hanya melalui produksi bahan baku, tetapi juga melalui pengembangan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan kakao, termasuk fungsi dan penggunaannya pada tahapan produksi. Pengetahuan ini menjadi bekal sebelum mereka mengikuti praktik pengoperasian mesin secara langsung.
Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mulai mencoba proses pengolahan dan mempraktikkan penggunaan peralatan yang sebelumnya hanya dipelajari melalui penjelasan. Dari kegiatan praktik tersebut, peserta belajar menghasilkan dua jenis produk olahan, yaitu cokelat batang dan bubuk cokelat.
Pengalaman ini memberikan pembelajaran yang lebih konkret. Peserta tidak hanya menerima penjelasan teori atau menyaksikan proses produksi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pembuatan produk cokelat.
Melalui praktik tersebut, peserta mendapatkan gambaran awal mengenai keterampilan teknis yang diperlukan dalam pengolahan kakao. Mereka juga belajar bahwa proses menghasilkan produk berkualitas membutuhkan pemahaman mengenai tahapan pengolahan, penggunaan mesin, dan penanganan bahan baku yang tepat.
Kehadiran Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Jayapura turut melengkapi kegiatan yang mempertemukan pemuda, pelaku pengolahan kakao, dan unsur pemerintah daerah. Pertemuan ini menjadi ruang pembelajaran untuk melihat potensi pengembangan kakao melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pengolahan produk di tingkat lokal.


Bagi Kelompok 3 Tim Ekspedisi Patriot ITB 2026, pelatihan ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan proses pengolahan kakao, tetapi juga menyiapkan pemuda agar memiliki pengetahuan dan keterampilan awal untuk mendukung pengembangan potensi lokal.
Ketua Kelompok 3 Tim Ekspedisi Patriot ITB 2026, Eri Mustari, menyampaikan harapannya agar pengalaman yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal untuk pengembangan industri pengolahan cokelat di kawasan transmigrasi Lereh.
“Harapannya, di masa yang akan datang industri pengolahan cokelat dapat tersedia di kawasan transmigrasi Lereh. Dengan begitu, pemuda Lereh sudah siap dan mampu mempraktikkan apa yang telah dipelajari melalui pelatihan ini,” ungkapnya.
Harapan tersebut sejalan dengan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi lokal. Keberadaan industri pengolahan tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan baku dan peralatan, tetapi juga orang-orang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan untuk menjalankan proses produksinya.
Bagi peserta, pelatihan ini juga menghadirkan pengalaman baru. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa banyak hal yang dapat dipelajari selama kegiatan, terutama mengenai cara mengolah biji kakao menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Ada banyak hal yang bisa kita pelajari di sini. Salah satunya, kita bisa mengetahui bagaimana cara mengolah biji kakao menjadi produk yang bernilai tinggi. Saya tertarik menjadi pengolah kakao karena ini bisa menjadi jembatan bagi kita untuk menjadi lebih maju. Selain mendapatkan ilmu baru, momen belajar bersama seperti ini juga menjadi pengalaman yang seru,” ungkap peserta tersebut.
Testimoni ini memperlihatkan bahwa pelatihan tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga menumbuhkan ketertarikan terhadap kegiatan pengolahan kakao sebagai salah satu peluang untuk berkembang. Kebersamaan selama proses pembelajaran turut menjadi pengalaman yang memperkuat semangat peserta dalam mengenal potensi daerahnya.


Pelatihan Hilirisasi Kakao selama dua hari ini memberikan pengalaman belajar yang saling melengkapi. Kunjungan ke Kakao Kita Papua memperkenalkan peserta pada gambaran industri pengolahan dan pemberdayaan petani, sedangkan kegiatan di Rumah Coklat memberikan kesempatan untuk memperdalam pemahaman mengenai hilirisasi sekaligus mempraktikkan pengoperasian mesin dan pembuatan produk cokelat.
Keterlibatan 17 pemuda yang mewakili setiap SP dan kampung adat di kawasan transmigrasi Lereh menjadi bagian penting dari upaya memperluas akses pembelajaran bagi masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan menjadi modal awal bagi mereka untuk mengenali peluang pengembangan kakao di wilayahnya.
Ke depan, pengembangan potensi kakao di Lereh dapat diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pengolahan hasil perkebunan, pengembangan produk, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan akses pasar. Dengan demikian, peluang ekonomi dari komoditas kakao dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Bagi Kelompok 3 Tim Ekspedisi Patriot ITB 2026, kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk menghubungkan potensi lokal dengan pengetahuan, keterampilan, dan peluang pengembangan usaha. Pelatihan ini merupakan langkah awal; pengembangan industri pengolahan kakao di Lereh ke depan tetap memerlukan tindak lanjut berupa pendampingan, penguatan keterampilan, kesiapan sarana produksi, serta pengembangan pasar.
Sebab, potensi kakao akan semakin berarti ketika masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan bahan baku, tetapi juga memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah.(..)
Posted in Ekonomi
Jayapura, admediapapua.co.id -Potensi kakao tidak hanya terletak pada hasil panen, tetapi juga pada peluang mengolahnya…
Jayapura, admediapapua.co.id – Horison Ultima Entrop Papua menghadirkan program “Stay Oktober”, sebuah penawaran spesial bagi…
JAYAPURA , admediapapua.co.id – Pemerintah Provinsi Papua kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional atas kinerja…
JAYAPURA , admediapapua.co.id – Gubernur Papua Matius D. Fakhiri memaparkan tujuh isu strategis yang menjadi…
JAYAPURA, admediapapua.co.id – Pemerintah Provinsi Papua menegaskan komitmennya menjaga stabilitas inflasi daerah yang saat ini…
Leave a Reply